Kamis, 27 Mei 2010

Menantang Hari

Hanya mendung. Engkau menggenangi dirimu dengan kabung. Terlalu banyak paragraf yang kau susun; engkau lupa dusun. Ingatlah saja kau bukan siapasiapa dan tak perlu menjadi siapa hanya untuk menolak jerat.

Mataharimu tak juga terik, bapak. Lihatlah! Lumpur tak akan mampu sendirian kau gempur.

"Aku akan minta suaka politik!"

Mari bapak, kita ulangi berhitung satu dua tiga... pelan saja: pita suaramu cukup ko' untuk menggantung bakrie.


Porong 05 des 08

Eksplorasi Sunyi.

Kurobek mata malam hanya untuk mematikan lampu terakhir yang mendendam: ada sakit yang tersisa di sana. Dengan sisa darahnya, aku terhuyung menelanjangi diri sendiri. Bulan mati. Sebilah tangis tergeletak di tangan kiri.

Bantu aku membatu.

Kita tak akan pernah tahu seberapa kuat kata sebelum kita menabrakannya pada pukulanpukulan telak dengan malam yang kemudian diam. Menahan karam.

Aku tak menunggu lagi.

Menghitung beberapa huruf untuk sampai pada malam kematian.


porong, 05 desember 08

Minggu, 26 Oktober 2008

Ingatan Kata

Mengingatmu membuatku menemukan serangga dalam hujan yang ternganga. Tak kunjung selesai meski telah berlembarlembar sunyi menemani. Saat menghela nafas, terdapat ketakutan yang siap menghempas. Di saat hampir bersamaan aku juga merasa menemukan kesempatan.

Akh,
Cinta memang tak asyik tanpa kata.


Porong, Oktober 2008

Lingkar Bakar

Jendela matamu setengah terbuka

Aku memasuki pintu keringatmu membawa berjamjam hujan yang lalu lupa mengejan

Lampu telingamu padam


Sebuah kata feminin menghela nafasnya yang berat ditimpa bayi dalam perutnya

Engkau mendesah mencari gagang pintu yang sekali pernah terkunci—petapeta terbakar

Pada ruangruang ternganga bibirbibir kita saling menyala

Bercinta!


Porong, 26 Okt 08