Jumat, 26 Oktober 2007

Malam yang Beranjak Diam.


Malam beranjak diam.

Menyusun ketidaktepatan tertentu untuk menghasilkan dendam. Tubuhtubuhku digelayuti mimpimimpiku atas nafasnafas yang memburu. Tandatanyatandatanya menulisi pikiranku dengan semacam tinta yang juga tak suci—ada beberapa bayang berasap memakai jubah dengan tubuh yang rebah. Mungkin ketakutan mungkin kegilaan sedang meninabobokannya. Bukan karena perasaan yang tertawa atau sendawa, yang pasti.

Aku tahu itu!

Masih dalam keremangan, semacam pasar malam yang tibatiba saja karam, daundaun dari awan menetaskan hujan yang juga beranjak diam. Spermasperma berceceran dari setiap ucap yang menguap. Susunan bahasa yang kau genggam pun menggelinjang panjang, tanpa kepastian sejauh mana akan bertahan. Langit menengadah. Berselingkuh dengan tanah untuk merayakan kesucian dari lahirnya putraputri jadah.

Masih perlukah perayaan kesunyian yang lain, sayang?

Kisah Cinta Dalam Gelap.


Aku terkubur.

Aku sudah lama terkubur. Engkau mengunjungiku setiap minggu. Setiap kali mengetuk kuburan, aku keluar. Mataku penuh tanah.

Bagaimana bisa melihat, katamu dalam tanya. Aku berusaha membersihkan tanah itu dari mataku.

Bagaimanapun aku tak dapat melihat. Aku tidak memiliki mata, yang ada hanya bolongan.

Dan kemudian, suatu hari engkau bepergian. Jauh sekali. Dan aku tahu, ada yang kau tuju. Mingguminggu berlalu, dan tak ada tandatanda mengenai keberadaanmu. Aku takut untuk merindukanmu, dan berhenti tidur. Akhirnya engkau mengetuk kuburanku lagi, tetapi tenagaku sudah habis karena tak tidur selama bermalammalam dan aku pasti tak sanggup untuk keluar.

Ketika akhirnya aku keluar, engkau tampak kecewa. Engkau berkata bahwa wajahku menyerupai kematian. Aku merasakan betapa menggigilnya engkau karena ngeri—dengan pipiku yang kempot dan gerakan wajah yang gugup.

Maaf, kataku. Aku tak bisa tidur sejenak pun ketika engkau pergi meninggalkanku.

Itukah? Engkau bertanya dalam nada yang purapura gembira. Engkau hanya butuh istirahat yang baik: sebulan liburan!

Terdengar bunyi gemeretuk, bulan jatuh tepat di langitlangit hatiku yang seketika itu juga menjadi beku. Seolaholah aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu: Satu bulan liburan, berarti engkau tidak ingin melihatku selama satu bulan. Engkau memiliki sesuatu yang lain.

Kemudian engkau meninggalkanku dan aku kembali masuk dalam liang kuburanku, dan sepenuhnya menyadari; bahwa aku pasti tak dapat tidur lagi selama sebulan menunggumu.

Dan ketika engkau kembali, aku akan bertambah seram dan suram menyerupai malam yang beranjak diam, dengan dendam yang ikut bersemayam.

Dan aku tahu: engkau akan bertambah kecewa lagi.

Kembali Pulang.

Menemukanmu kembali

Seperti mencumbu bibir ranum

Kekasih senja

Pun petapeta pelarian

Kita yang gelap

Menyisir tiap helai lalai

Dalam pacuan hasrat

Melampaui batasbatas

Normal yang bagi kita

Simfoni kata penuh makna


Otakku mungkin tak lagi terisi

Temboktembok berguguran

Atas bangkai yang tak sekedar basi

Atau ketiakmu yang penuh deodoran


Engkau tak harus mengerti

Apa yang selama ini terjadi

Sebab kehilangan

Akhir kesempurnaan

Cukup kita saling mengendurkan

Mur-baut yang dipaksa

Melubangi kita atas kenangan


Jemari kita memang akan membusuk

Seperti halnya katakata

Kita yang menemui muaranya

Tapi kulkas saja akan terbatabata

Menyejukkan geliatgeliat resah kita

Yang mengerang

Yang menggelinjang


Ingin kembali pulang

Ke Rumah Puisi.

Engkaulah subuh pertama yang membuatku berlabuh dan membiarkan luka menemui muara sembuh. Pada keletihan sauh yang berlubang gelombang aku mencari buihbuih mimpi yang melangkahi ombak asin maupun lanskap harapan dalam spektrum kenangan. Di sini, di pantai yang masih menyisakan sedikit nyanyian sungai aku hanya ingin melantai membiarkan angin merestuiku memerangi pagi yang dingin dengan jemari kita yang saling memilin.


Menuju rumah puisi.